PERANG DUNIA KETIGA: Peran amerika dalam prediksi penulis







Perang Dunia III atau disingkat menjadi PD III(bahasa Inggris: World War III), adalah konflik hipotesis yang merupakan kelanjutan dari Perang Dunia II (1939–1945). Konflik ini perkirakan penulis akan berskala global, dengan spekulasi yang umum bahwa akan sangat mungkin terjadi Perang Nuklir ini ditandai dengan munculnya senjata biologi dan senjata kimia.
Sebagai akibat dari Perang Dunia I, dan  Perang Dunia II, dan  dimulainya  Perang Dingin  serta makin maraknya pengembangan, pengujian dan penggunaan senjata nuklir, ada spekulasi luas awal untuk perang global berikutnya. Walau sebenarnya perang ini telah diantisipasi dan direncanakan oleh pihak berwenang militer dan sipil, dan dieksplorasi dalam cerita fiksi di banyak negara. Konsep berkisar dari terbatasnya penggunaan senjata atom, untuk kehancuran planet ini.
Dalam Agama Islam terdapat petunjuk tentang perkiraan terjadinya Perang Dunia III ini, yaitu saat umat islam dalam keadaan berdamai dengan kaum Nasrani maupun Yahudi maka muncullah suatu pihak yang menjadi musuh bersama, dan umat Islam akan ikut berperang bersama Nasrani maupun Yahudi menghadapi musuh bersama itu dibawah 80 bendera yang masing masing bendera terdiri 120.000 pasukan.
Dalam Hadits itu disebutkan bahwa peperangan terjadi di Syam (Suriah, Lebanon, Yordania, Palestina dan Israel serta sebagian Turki),
Sedangkan dalam Agama Kristen, perang ini disebut sebagai Armageddon perang yang merupakan perang besar.


Akan memakan korban yang sangat banyak dan akan melibatkan alat-alat canggih serta mematikan.
Sedangkan menurut penjelasan dari berbagai analis mengenai tempat terjadinya perang global ada kemungkinan di dua tempat.


Yaitu:
1.SURIAH.


A. Ian Bremmer, presiden perusahaan riset geopolitik Eurasia Group, pernah mengatakan,


"Kami sedang tidak menuju perang nuklir dengan Rusia, tetapi masa ini adalah masa yang berbahaya. Jika Amerika terlibat dalam serangan langsung terhadap Assad, sementara di satu sisi ada perlawanan dari Rusia dan Iran, maka ini akan menjadi sesuatu yang mengerikan."
Namun pendapat penulis,


~Keputusan Rusia untuk tidak terlibat secara langsung dalam mengoperasikan sistem pertahanan rudal canggihnya di kala AS dan sekutunya membombardir Gudang kimia milik Pemerintahan Assad.


Tidak menyerang balik pasukan koalisi dan terkesan malah menghindar dengan alasan serangan itu tidak melewati kawasan mereka, ini membuktikan bahwa Rusia tidak ingin ditarik ke dalam konflik dengan AS.


Malak Chabkoun dari Al Jazeera pro Assad beralasan Rusia tidak merspon karena serangan koalisi ditargetkan dengan hati-hati, demi menghindari kehadiran Rusia di Suriah dan mereka tidak akan melakukan apa pun untuk mengusir rezim Suriah dari tempatnya.


Itu artinya, Moskow dengan mudah dapat mengabaikan pasukan dari ketiga negara tersebut.


Mathieu Boulegue, seorang analis keamanan bidang Eurasia, juga meragukan bahwa Vladimir Putin akan menargetkan militer AS. Dia mengatakan, Rusia tak mampu melakukan banyak hal.
"Saya tidak percaya bahwa Rusia akan menargetkan AS secara langsung di medan tempur, entah itu di Suriah atau di luar Suriah. Jika Perang Dunia Ketiga benar-benar pecah, maka penyebab utamanya bukan karena Suriah," katanya kepada HuffPost.
Di Lebanon, negara tetangga Suriah, militan Hezbollah juga menyetujui bahwa bentrokan antara AS dan Rusia tidak akan mungkin terjadi.
"Kondisi seperti ini tidak menunjukkan adanya perang habis-habisan... kecuali kalau Donald Trump dan Benjamin Netanyahu benar-benar sudah kehilangan akal sehat mereka," tutur Wakil Sekjen Hezbollah, Sheikh Naim Qassem, kepada surat kabar Lebanon, Al Joumhouria.
2.LAUT CINA SELATAN.


Ketika AS dan Rusia "bersinggungan langsung" dengan Suriah, mata dunia telah berpaling dari hubungan antara China dan AS.
Tapi seiring dengan adanya "perang" perdagangan global, menyusul keputusan Donald Trump memberlakukan tarif tinggi pada impor China, beberapa ahli percaya bahwa perang militer di Laut China Selatan tidak dapat diganggu gugat.
Akhir tahun lalu, analisis terbaru dari Center for Strategic and International Studies menemukan, China telah membangun empat fasilitas militer seukuran Istana Buckingham, di wilayah pulau yang disengketakan itu.
AS, secara berkala, meluncurkan kapal perang melewati pulau-pulau itu, menurut The Guardian. Inggris pun berencana mengirim kapal induk ke wilayah itu pada tahun depan.
Konfrontasi di Laut China Selatan tidak dapat dihindari, kata Maochun Yu, seorang profesor sejarah dari US Naval Academy di Maryland.


Saat ini Beijing sedang berusaha untuk melindungi area perbatasan dan memperluas kontrol di wilayah perairan.
"Prioritas geopolitik dan geostrategis China adalah untuk merevisi atau mengubah tatanan internasional yang ada, yang telah didasarkan pada sistem aturan, undang-undang dan adat istiadat yang mengatur kepentingan global, termasuk Laut China Selatan," katanya kepada majalah Kebijakan Luar Negeri, The National Interest.
Mantan penasihat Donald Trump, Steve Bannon, menegaskan pada Maret tahun lalu, bahwa AS siap berperang di Laut China Selatan dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan.
Bagi penulis ancaman ini yang paling nyata.

Baca juga artikel baru






Tetapi jika diamati dari kondisi saat ini bahwa di Timur Tengah tengah terjadi konflik bersenjata terutama di Irak, Suriah, Yaman, Turki, Palestina, Israel, Mesir dan muncul 3 pihak secara garis besar yaitu :
Amerika Serikat dan negara-negara NATO, Eropa, Liga Arab, dan negara persemakmuran Inggris dan pendukungnya.
Rusia, Suriah, Iran, Lebanon.
ISIS, Al-Qaeda serta kelompok militan lainnya yang bertempur secara terpisah.
Ditambah beberapa konflik antar negara di lain kawasan seperti :
Konflik Laut Cina Selatan antara China dan negara yang bersinggungan (Filipina, Vietnam, Malaysia, Brunai) yang didukung Amerika Serikat dan sekutunya.
Konflik pengembangan senjata strategis dan nuklir Korea Utara dengan Korea Selatandengan dukungan Amerika Serikat.
Konfilk pemberontakan pro Rusia yang berusaha melepaskan Kremia dari Ukraina.
Konflik terselubung eksploitasi Sumber Daya Alam di negara-negara berkembang oleh perusahaan-perusahaan milik negara maju di Asia, Afrika, dan Amerika Selatan.
Dendam pihak-pihak yang kalah pada Perang Dunia II (Jepang akibat dijatuhi Bom Atom dan Jerman akibat runtuhnya Reich Ketiga).
Maka ada beberapa perkiraan tentang pihak yang berperang
1. Amerika Serikat dan NATO, Liga Arab, Persemakmuran Inggris dan pendukungnya berdamai dengan ISIS, Al-Qaeda, Kurdi,  Melawan Rusia, Suriah, Iran, Syiah Lebanon dan Yaman dengan dukungan Cina dan Korea Utara.
2. Amerika Serikat, NATO, Liga Arab, Persemakmuran Inggris, Rusia, Iran, Suriah, Lebanon, dan pihak lainnya Melawan ISIS, Boko Haram, Al- Sabab,Hamas dan Fatah, dan organisasi Militan Lainnya setelah mereka bersatu di Syam.
3. Amerika Serikat dan NATO, Liga Arab, Persemakmuran Inggris dan pendukungnya melawan Rusia, Suriah, Iran, Syiah Lebanon dan Yaman dengan dukungan Cina dan Korea Utara serta ISIS, Al-Qaeda setelah berdamai.


Dan potensi terbesar menurut penulis adalah skenario nomor satu.

Comments