DAVID BEN GURION PENDIRI NEGARA ISRAEL





David Ben Gurion  (דָּוִד בֶּן-גּוּרִיּוֹן, ).
Gairah Ben-Gurion untuk Merdeka, yang dimulai sejak awal kehidupan, membawanya menjadi seorang pemimpin Zionis besar, dan sebagai kepala Badan Yahudi, ia menjadi de facto pemimpin komunitas Yahudi di Palestina, dan sebagian besar memimpin perjuangan untuk kemerdekaan negara Yahudi di Palestina. Pada tahun 1948, ia secara resmi menyatakan pendirian Negara Israel, dan dialah yang pertama menandatangani Deklarasi Kemerdekaan Israel. Ben-Gurion memimpin pemerintah sementara Israel selama Perang Arab-Israel 1948, dan menyatukan berbagai milisi Yahudi ke dalam Angkatan Pertahanan Israel (IDF). Setelah perang, Ben-Gurion pertama menjabat sebagai Perdana Menteri Israel. Sebagai Perdana Menteri, ia membantu membangun lembaga-lembaga negara, memimpin berbagai proyek nasional yang ditujukan untuk pembangunan negara. Dia juga mengawasi penyerapan sejumlah besar orang Yahudi dari seluruh dunia. Pada tahun 1953, ia mengundurkan diri dan menjabat sebagai Menteri Pertahanan, sebelum kembali menempati posisi itu pada tahun 1955. Di bawah kepemimpinannya, Israel menanggapi agresif terhadap serangan gerilya Arab, dan pada tahun 1956, menyerbu Mesir setelah Mesir menasionalisasi Terusan Suez. Ia mengundurkan diri dari jabatannya pada tahun 1963, dan pensiun dari kehidupan politik pada tahun 1970. Dia kemudian pindah ke Sde Boker, sebuah kibbutz di gurun Negev, di mana dia tinggal sampai kematiannya. Anumerta, Ben-Gurion sebagai salah satu dari 100 Orang Paling Penting dari abad ke-20 versi majalah Time.
Baca juga:

BIOGRAFI DAVID BEN GURION.

1. Masa Kecil

Lahir dengan nama David Gruen, Ben Gurion lahir pada 16 Oktober 1886 di Plonsk, Kerajaan Polandia yang masuk di kedaulatan Kekaisaran Rusia.

Ayahnya, Avigdor Gruen, adalah seorang pengacara sekaligus pemimpin dari pergerakan bernama Hovevei Zion. Gurion diketahui punya saudara kembar yang meninggal saat lahir.

Pada usia 14 tahun, dia dan dua teman mendirikan klub bernama Ezra yang mempromosikan pengajaran ala Yahudi dan emigrasi ke "Tanah Perjanjian".

Saat berusia 18 tahun, dia mulai mengajar di sekolah Yahudi Warsawa. Kemudian dia menggabungkan sosialisme dan Zionisme, dan bergabung bersama kelompok Poalei Zion.

Pada 1905 setelah menjadi mahasiswa di Universitas Warsawa, Ben Gurion pernah dua kali ditangkap karena ikut dalam Revolusi Rusia 1905.

Keinginan Ben Gurion untuk memastikan tanah Yahudi membawanya ke Timur Tengah, tepatnya di Palestina, di mana dia melihat "tanah Israel".

Pada 1906, dia membentuk komunitas untuk para petani dan kelompok pertahanan Yahudi bernama Hashomer atau Penjaga.

Ketika Perang Dunia I pecah, dia dideportasi oleh Kerajaan Turki Ottoman dan meninggalkan Timur Tengah menuju New York, di mana dia bertemu istrinya, Paula Monbesz.

2. Mandat Palestina dan Negara Yahudi

Pada 2 November 1917, Menteri Luar Negeri Inggris Arthur James Balfour membuat sebuah pernyataan yang dikenal sebagai Deklarasi Balfour.
Balfour membuat pernyataan itu berkat lobi-lobi yang dilakukan oleh pemimpin komunitas Yahudi di Inggris, Baron Rothschild.
Isi deklarasi itu adalah Inggris akan mengupayakan Palestina sebagai rumah bagi bangsa Yahudi, tetapi dengan jaminan tidak akan mengganggu hak keagamaan dan sipil warga non-Yahudi di Palestina.
Deklarasi itu kemudian di Perjanjian Damai Sevres pada 10 Agustus 1920 antara Ottoman dengan Sekutu di akhir Perang Dunia I.
Inti dari perjanjian itu adalah pembagian wilayah milik Ottoman Turki yang membuat kerajaan itu bubar, dan memunculkan Mandat Palestina.
Setelah deklarasi itu dirilis, Ben Gurion kembali ke Timur Tengah dan berperang melawan Ottoman demi pembebasan Palestina.
Setelah Ottoman tersingkir, Ben Gurion menyerukan kepada komunitas Yahudi untuk bermigrasi dalam jumlah besar ke Palestina.
Kedatangan mereka membuat fondasi bagi Negara Yahudi. Pada 1935, dia terpilih sebagai Ketua Zionist Executive, pimpinan tertinggi Zionisme dunia.
Setelah satu dekade gelombang perpindahan itu, warga Arab Palestina mulai gerah dan merasa disingkirkan. Perasaan itu menumbuhkan nasionalisme Palestina.
Puncaknya adalah Revolusi Arab pada 1936-1939 yang dipimpin oleh Imam Besar Yerusalem Mohammad Amin al-Husayni.
Akibat revolusi ini, 5.000 warga Arab, lebih dari 300 warga Yahudi, dan 262 tentara Inggris tewas. Selain itu, sedikitnya 15.000 warga Arab terluka.
Inggris kemudian menggelar sejumlah investigasi untuk menentukan penyebab pertumpahan darah yang terjadi selama tiga tahun tersebut.
Terdapat berbagai solusi dengan yang terbaru diusulkan Inggris pada Mei 1939, atau beberapa bulan sebelum Perang Dunia II bergulir.
Solusinya adalah Inggris bakal menentukan kuota jumlah imigran Yahudi yang bisa memasuki Palestina, di mana pengelolaannya bakal dilaksanakan pemimpin Arab di masa depan.
Selain kuota, Inggris juga melarang imigran Yahudi membeli tanah dari warga Arab demi mencegah gesekan sosial antara kedua kubu.
Solusi itu membuat Ben Gurion meradang. Dia kemudian menyerukan kepada seluruh warga Yahudi lainnya untuk bangkit dan menentang Inggris.
Dia dan para pemimpin Zionis lainnya berkumpul di New York pada 1942, tepatnya di Hotel Biltmore, dan menetapkan Palestina sebagai wilayah Persemakmuran Yahudi.
Setelah Perang Dunia II berakhir, Ben Gurion terus berkampanye menentang Mandat Palestina dan pada 1948 di Sidang Umum PBB, Amerika Serikat (AS) dan Uni Soviet menyepakati berdirinya Negara Israel.

3. berdirinya Negara Israel

Di hari terakhir Mandat Palestina, tepatnya pada 14 Mei 1948, Ben Gurion mendeklarasikan kemerdekaan dan berdirinya Negara Israel.
Saat itu, dia menjanjikan negara baru tersebut bakal memberikan kesetaraan sosial dan politik bagi seluruh warganya tanpa memandang ras maupun agamanya.
Sehari setelahnya, pecahlah Perang Arab-Israel antara Israel dengan Liga Arab yang berlangsung selama sembilan bulan hingga 10 Maret 1949.
Sebelum 26 Mei 1948, Israel masih terdiri dari berbagai kelompok paramiliter seperti Haganah dengan pasukan elitnya Palmach, Irgun, dan Lehi.
Kemudian pada 26 Mei 1948, Ben Gurion memerintahkan agar semua kelompok paramiliter itu melebur dan menjadi Pasukan Pertahanan Israel (IDF(.
Setelah memimpin dalam Perang Arab-Israel, Ben Gurion terpilih sebagai perdana menteri pertama pasca-partainya Mapai (Buruh) memenangkan kursi terbanyak di Knesset.
Jabatan sebagai PM diembannya hingga 1953 sebelum mengumumkan mundur dan posisinya digantikan Moshe Shareet yang dilantik pada Januari 1954.
Ben Gurion memutuskan kembali ke pemerintahan pada 1955. Dimulai dari menjabat sebagai Menteri Pertahanan sebelum dilantik lagi pada 3 November 1955.
Sepanjang masa pemerintahan keduanya, dia pernah memerintahkan intelijen Israel, Mossad, untuk menangkap salah satu pelaku Holocaust, Adolf Eichmann.
Eichmann yang merupakan petinggi Nazi Jerman diketahui bersembunyi di Argentina. Dia berhasil ditangkap pada 1960 dan disidang sebelum dieksekusi dua tahun berselang.
Ben Gurion juga begitu terobsesi dengan senjata nuklir. Dia berkata senjata itu merupakan satu-satunya yang bisa menjamin masa depan Israel.

4. Masa Akhir dan Kematian

Ben Gurion mengundurkan diri untuk kali kedua pada 26 Juni 1963 karena alasan pribadi, dan memilih Levi Eshkol sebagai penggantinya.
Dia benar-benar pensiun dari politik pada 1970, dan menghabiskan hari tuanya menyusun 11 volume sejarah awal berdirinya Israel.
Pada 18 November 1973, dia mengalami pendarahan otak dan dilarikan ke Rumah Sakit Sheba di Tle HaShomer, Ramat Gan.
Kondisinya memburuk dan pada 1 Desember 1973, Ben Gurion meninggal dunia dalam usia 87 tahun. Dia dimakamkan di samping istrinya Paula di Midreshet Ben-Gurion.

Baca juga:
1.pembunuh satu keluarga dibekasi.
2.angkara murka.
3.Agama atau sains: Masa depan Tuhan.
4.Tuhan: keberadaan yang kekal dan tidak.


Komentar

  1. games.online IONQQ.GAMES. pin BB :58ab14xf5
    silahkan daftar dan dapatkan keuntungan yang besar dengan bermain di IONQQ.GAMES:)

    BalasHapus

Posting Komentar

Berilah komentar berpendidikan umum

loading...
loading...