loading...
Skip to main content

AGAMA ATAU SAINS: Masa depan Tuhan



Suatu ketika, Napoleon bertanya kepada Laplace, seorang matematikawan besar Prancis tentang siapakah Pengarang alam semesta yang ajaib ini. Laplace menjawab, “Saya tidak membutuhkan hipotesis itu.” (Karen Armstrong, Masa Depan Tuhan: Sanggahan Terhadap Fundamentalisme dan Ateisme.
Bagi Laplace, ada atau tidak ada Tuhan bukanlah hal penting bagi sains sebab dengan mengetahui hukum alam, semua pertanyaan dapat terjawab"


Agama dan sains adalah dua entitas yang sama-sama penting dan bernilai. Tapi seringkali memang ditempatkan dalam dua kutub yang berseberangan.
"Beberapa kontradiksi antara agama dan sains."
1. Menurut agama : jagat raya diciptakan oleh Allah, (Maha pencipta) entah dengan cara bagaimana dan entah berapa lama tidak jelas karena berbeda-beda pendapat setiap kitab.

* Bukti : tidak ada, kecuali hanya percaya saja
menurut sains : alam semesta bermula dari suatu dentuman besar (big bang). dentuman yang berasal dari satu titik yg tak berhingga kerapatannya, lalu mengalami evolusi selama miliaran tahun sampai seperti saat ini.

Bukti : adanya sisa-sisa radiasi saat dentuman bermula, radiasi yang merata diseluruh semesta tanpa memandang arah. Setiap materi di alam semesta sudah teramati bergerak saling menjauhi, dan ini hanya dapat dijelaskan jika suatu saat nanti manusia bisa menyatukan semua materi pernah ada di satu titik atau bertemu sendiri.
2. Menurut agama : Allah menciptakan manusia, adam dan hawa.

Kapan, dimana ?.

Masalah yang timbul sbb : jika manusia sekarang berasal hanya dari satu kakek moyang (adam) dan satu nenek moyang (hawa) dan bukan karena evolusi, mengapa begitu banyak ras manusia. ada kulit hitam, putih, kuning. ada mata biru, coklat, sipit. ada rambut ikal, keriting, lurus.

Berarti kita semua satu nenek moyang, maka perkimpoian diantara sesama manusia adalah perkimpoian sesama saudara (incest).
menurut sains : manusia berasal dari sesuatu yang mengalami evolusi, seleksi, mutasi, sehingga seperti sekarang, dan akan terus berevolusi, terseleksi, termutasi, entah menjadi seperti apa nantinya.

Manusia bukanlah ciptaan sekaligus langsung seperti sekarang ini. Bukti ilmiah tentang ini sangat banyak. Dan evolusi, seleksi dan mutasi ini sudah berlangsung jutaan tahun.
3. Menurut sains, bumi kita ini (tempat berlangsungnya apa yg tertulis di kitab-kitab suci) adalah anggota dari tata surya. Tata surya dimana kita berada adalah anggota dari galaksi bima sakti (milky way, galaksi kabut susu), dimana di dalamnya terdapat jutaan sistem tata surya. Galaksi bima sakti hanya satu dari jutaan galaksi yang ada. Kalau dikaitkan dengan agama: mengapa Allah sangat mengistimewakan bumi kita ini, adakah di tempat-tempat lainnya juga Allah menciptakan manusia dan menurunkan agama, menurunkan juga kitab-kitab suci ?. Kalau ya, berarti kita tidak istimewa, kalau tidak berarti sia-sialah ciptaan yg lainnya. Begitu hampa, sangat sunyi, ruang maha luas hanya diisi oleh secuil manusia di bumi yg hanya sebesar debu jagad raya.
Memang Apa yang tertulis di atas, baik menurut agama maupun yg menurut sains, dua-duanya tidak pernah kita saksikan, jadi tidak ada kebenaran mutlak di dalamnya, hanya kebenaran relatip. Apa yg tertulis pada kitab suci kita percayai hanya karena sejak kecil kita diminta untuk percaya. Jika untuk sesaat kita membebaskan diri dari dogma agama, apa yg kita pilih untuk kita percayai ?. Ingat lebih mudah menemukan bukti ilmiah dari pada bukti agama.
5. Perkembangan ilmu kloning semakin pesat, bahkan sudah membuahkan hasil, meskipun untuk domba. Jika dihubungkan dengan agama, apakah kloning akan mengambil alih pekerjaan pencipta ?, bukan lagi hak prerogatif Allah ?ini bisa mengguncang definisi semua agama tentang Allah. 
Sejumlah ilmuwan terkemuka Eropa sedang membuka diri untuk berdiskusi dengan dengan filsuf dan teolog, tentang topik asal usul segala sesuatu. 
Acara yang digelar di Jenewa, Swiss bertujuan mencari "landasan bersama" antara agama dan sains tentang bagaimana alam semesta bermula. Konferensi ini diselenggarakan Center for Nuclear Research (CERN), yang baru-baru ini menemukan, Higgs boson yang berjuluk "partikel Tuhan"
CERN adalah rumah dari Large Hadron Collider (LHC) akselerator partikel terbesar di dunia, yang terpendam di bawah tanah daerah perbatasan Perancis-Swiss dekat Jenewa.
Acara dibuka oleh Profesor Jim Al-Khalili yang menjelaskan apa Higgs  boson dan mengapa penemuannya sangat penting. 
Terkait topik debat, pembicara pertama dalam konferensi itu adalah Andrew Pinsent, direktur riset Ian Ramsey Centre for Science and Religion, Oxford University. 
Menurutnya, sains berisiko, "mengubah manusia menjadi mesin", jika tidak diimbangi agama dan filosofi. 
"Ilmu yang terisolasi mungkin sangat tepat untuk memproduksi barang-barang, tapi tak terlalu baik untuk menghasilkan sebuah ide," kata dia kepada BBC. "Einstein memulai pencariannya dengan sebuah pertanyaan yang biasa diajukan anak-anak, misalnya, apa yang akan terjadi jika seseorang menunggang balok cahaya." Dari kepolosan manusia macam itulah, kata Pinsent, sejatinya ilmu berasal.
Sementara, Prof Rolf Heuer, direktur CERN menjelaskan, temuan partikel Higgs boson menjelaskan "wawasan yang lebih dalam dan pemahaman tentang momentum pasca Big Bang". Ia berharap pada akhir konferensi, para peserta yang memiliki latar belakang berbeda akan mulai mendiskusikan asal usul alam semesta.
Sebaliknya, pihak penyelenggara lain, Dr Gary Wilton dari keuskupan  Canterbury di Brussel mengatakan, alih-alih menguak misteri, partikel Higgs justru menimbulkan banyak sekali pertanyaan tentang alam semesta, yang bahkan tak bisa dijawab sendiri oleh para ilmuwan. "Itulah sebabnya mereka butuh mengeksplorasinya bersama pemuka agama dan filsuf."
Debat panas
Disediakan waktu tiga hari untuk saling berdebat. Apalagi, salah satu pembicaranya adalah Prof John Lennox dari Oxford University. Di masa lalu ia memiliki reputasi sebagai kritikus vokal para ilmuwan atheis.
Serangan khusus ia lancarkan pada ilmuwan nyentrik, Stephen Hawking yang mengatakan Tuhan bukan pencipta alam semesta. 
Dia menegaskan, Hawking salah. "Ketika Hawking berpendapat, hanya perlu menyalakan "kertas biru" untuk menggerakkan alam semesta, untuk mendukung teorinya bahwa alam semesta tercipta secara spontan, pertanyaannya dari mana "kertas biru" berasal, jika bukan dari Tuhan?," tulis Lennox. 
Sementara, Dr Wilton menyambut baik konferensi yang menyatukan pandangan berbeda. "Para ilmuwan, teolog, dan filsuf bisa saling mendapat wawasan menyegarkan."
"Argumen penulis"
Sains itu otentik dan bisa dibuktikan dan maha pencipta itu juga sudah pasti ada, ini sudah pernah dijelaskan dalam artikel sebelumnya dengan judul:

TUHAN vs SAINS

Tapi kenapa sain seakan tak bisa menerima keberadaan Maha pencipta...?? Itu karena dogma-dogma dalam kitab-kitab agama itu sendiri.

dasar ilmu agama dan ilmu pengetahuan itu berbeda

pengetahuan dengan ilmu pengetahuan juga berbeda,

pengetahuan adalah segala sesuatu yang kita ketahui (knowledge) itu termasuk pengetahuan ttg agama (dari berbagai macam agama, baik itu kristen, khatolik, budha, hindu, animisme, islam dll.)

sedangkan ilmu pengetahuan adalah pengetahuan manusia yang didasarkan pada pengalaman empiris dan dibuktikan secara runtut melalui metode ilmiah,, dengan metode dan langkah2 yang sama, ilmu pengetahuan bisa dibuktikan kebenarannya oleh orang yang berbeda dengan waktu dan wilayah yang berbeda, asalkan dengan cara dan metode ilmiah yang sama.


sedangkan agama atau ilmu agama,, adalah pengetahuan manusia tentang Sang Pencipta, ini tidak didasarkan pada metode ilmiah, karena menyangkut spiritual yang tidak terlihat oleh mata telanjang kita, tapi mata batiniah manusia,, oleh karena itu dasar dari agama adalah keyakinan, dogma, atau ajaran2 tertentu yang menganut pada iman masing2 manusia.
Baca juga:

Comments