YAHUDI PAHLAWAN INDONESIA


Kemerdekaan Indonesia disumbang oleh beragam etnis dan agama, tak terkecuali keturunan Yahudi. Para Yahudi dari Belanda, Australia, maupun dari amerika.
Meski adalah Salah satu suku dan hal yang tidak disukai sebagian masyarakat Indonesia .

Yahudi, Israel, dan zionis dipukul rata alias disamakan. Seolah semua orang keturunan Yahudi adalah pendukung zionis Israel. Padahal tak semua keturunan Yahudi mendukung Zionisme Israel.
Dengan kondisi ini, banyak keturunan Yahudi di Indonesia lebih memilih merahasiakan identitasnya. Meski demikian, kebudayaan dan keturunan Yahudi masih hidup di Indonesia. Penganut Yahudi bisa hidup di sekitar Tondano, Manado.

Kehadiran orang Yahudi di Indonesia setidaknya sudah ada sejak 1290. Mereka adalah pedagang yang berdagang di Barus, Sumatera Utara. Begitu menurut Jacob Saphir, yang menulis soal Yahudi di Indonesia. Di zaman kolonial Hindia Belanda, jumlah orang Yahudi di Indonesia mencapai 2 ribu orang. Mereka biasanya menjadi pedagang atau pegawai pemerintah.
Sejarah juga mencatat, beberapa keturunan Yahudi di Indonesia ini juga berperan dalam membantu kemerdekaan Republik Indonesia,diantaranya;

Baca juga:

1.Charles Mussry.
Adalah salah satu orang terkaya di Surabaya saat itu. Ia merupakan seorang pengusaha sukses dan saudagar yang terpandang. Ia tinggal di pusat kota, tepatnya di jalan Simpang yang saat ini berubah nama menjadi Jalan Pemuda. Di tempat tinggalnya, Mussry tak hanya bermukim, namun juga menjalankan usahanya. Lahan seluas 600 meter persegi digunakan sebagai bengkel mobil di sana. Namun di tahun 1960-an, bangunan tersebut dijual.
Charles Mussry memang dikenal berkecukupan. Mussry kerap menyumbangkan uangnya untuk kepentingan perjuangan. Salah satu peran pentingnya adalah menyumbang untuk dapur umum. Ia  yang memasok makanan bagi para pejuang di medan tempur, dan juga menyelundupkan senjata. Barangkali memang jarang yang tahu, namun Mussry juga aktif di berbagai kegiatan amal.

Tak tersisa apapun yang menjadi pengingat bagi sosok pejuang Mussry. Rumah dan juga bengkel miliknya telah lenyap setelah empat dasarwarsa. Rumah Sakit Simpang yang lekat dengan dirinya pun juga sudah tak lagi berdiri, tergantikan oleh pusat perbelanjaan Plaza Surabaya yang berjejeran dengan Museum Kapal Selam. Peninggalan yang raib ini pun makin membuat dirinya tenggelam tanpa dikenang.
Bukan suatu misi yang mudah dalam menemukan jejak Mussry. Media yang pernah mengumpulkan data Mussry mengaku jika keturunan Yahudi di Surabaya kerap menyembunyikan identitasnya. Hal tersebut tentu saja karena membahas soal Yahudi memang sangat sensitif di Indonesia. Terlebih, tak banyak keturunan Yahudi yang paham dengan sejarah Mussry. Namun, masih ada beberapa kerabat yang mengetahui kisahnya. Termasuk Mussry yang diketahui sangat dekat dengan Presiden Soekarno. Salah satu keponakan Mussry membenarkan tentang perjuangan pamannya di pertempuran 10 November di Surabaya.
Mungkin keberadaan Charles Mussry bisa membuat kita bercermin, tak semua Yahudi itu negatif. Bahkan sosok Mussry tergolong sebagai salah satu pahlawan yang berjuang di pertempuran 10 November. Hanya karena sosok Mussry adalah Yahudi, bukan berarti kita membuang namanya sebagai daftar pejuang.

2.Johanna Petronela Mossel.
Adalah seorang guru dari kalangan Indo yang menjadi istri kedua Ernest Douwes Dekker (DD). Ia lahir dari keluarga Belanda keturunan Yahudi.
Sebagai seorang guru (mendapat ijazah guru Eropa tahun 1924), sejak 1925 ia menjadi pengajar dan asisten administrasi Ksatrian Instituut, suatu lembaga pendidikan binaan Ernest Douwes Dekker yang berdiri di Bandung. Keduanya berkenalan di sini dan pada tahun 1926 (22 September) mereka menikah. Dari pernikahan ini tidak ada keturunan.
Bersama suaminya, Douwes Dekker, mereka memiliki inisiatif untuk mengembangkan kesadaran pendidikan. Johanna, yang pernah menjadi guru di sekolah MULO Institut Ksatrian, berpendapat sekolahnya itu bukan jawaban yang memuaskan terhadap kebutuhan pendidikan untuk anak-anak pribumi Indonesia. Akhirnya, mereka berdua, pada tahun 1932 mendirikan sekolah bernama Sekolah Menengah Dagang (Nasionaal Handels Collegium). Namun, nama itu membawa malapetaka. Pihak pemerintah Belanda melarang mereka menggunakan nama itu.

Semangat yang tetap menyala membuat mereka tak putus asa, mereka mengganti nama sekolahnya dengan nama Moderne Middlebare Handelsschool (MMHS). Sekolah tersebut mengajarkan jurnalistik, ekonomi, dan pendidikan. Pelajaran sejarah Ekonomi diajarkan di kelas 1 sampai dengan 5. Buku-buku yang digunakan untuk membuat buku penuntun adalah Kolonieen karangan Prof. Schmidt, dalam bahasa Jerman, dan Van Wingewest tot Zelbestuur oleh Stokvis.
Meskipun, dalam merintis sekolahnya itu banyak kendala dan cobaan, seperti pembakaran atau pemusnahan buku-buku yang dilakukan pemerintah Belanda, Johanna tidak patah semangat. Ia justru semakin kuat untuk mendidik para siswanya. Dalam perjalanannya sebagai guru, ia telah mampu memberikan pelayanan pemeriksaan dokter pada siswanya secara gratis, pelajaran formal yang harus ditempuh di sekolah dan fasilitas pengobatannya itu diberikan secara cuma-cuma. Merasa tak cukup, ia dan suaminya memberikan pelajaran ekstrakurikuler pada sore harinya, dan oleh bekas murid-muridnya, guru Johanna dikenang sebagai guru yang rewel dan keras sekali dalam menegakkan disiplin serta sopan santun pada anak didiknya. Ia pun mengajar tanpa imbalan honorarium. Sewaktu Douwes Dekker dibuang ke Suriname (1941), Johanna ditinggal dan disarankan oleh Douwes Dkker untuk berlindung pada Djafar Kartodiredjo, seorang guru Ksatrian Instituut pula, agar tidak ditangkap oleh tentara Jepang. Namun keduanya kemudian menikah 1942, kemungkinan besar tanpa sepengetahuan Douwes Dekker.

Pada masa pendudukan Jepang, Johanna tidak menjadi incaran Jepang karena namanya dekat dengan Douwes Dekker, yang dikenal baik oleh kalangan orang Jepang. Sekembalinya Douwes Dekker dari Surinamepada awal 1947, keduanya bertemu kembali namun tidak dapat bersatu sebagai keluarga. Di akhir 1947 keduanya kemudian bercerai.

Johanna Mossel dikenal sebagai pendukung kemerdekaan Indonesia pada masa Perang Revolusi (1945-1949) yang gigih dan dianggap pengkhianat oleh kalangan militer Belanda, namun tidak pernah ditangkap.

3.John Cohen.
Adalah merupakan anggota Partai Komunis Australia yang bergabung dengan divisi ke-7 tentara Australia. Mereka dikirimkan ke Balikpapan untuk bertempur melawan Jepang.
Menurut Anthony Reid, dalam Australia Soldiers in Asia Pasific in Worldwar II (1995), John Cohen adalah anggota Partai Komunis Australia yang ikut menyebarkan pamflet dari Australia. Pamflet itu dicetak oleh gerakan pro kemerdekaan Indonesia. Diantaranya orang-orang buangan dari Digoel yang dibawa tentara Belanda ke Australia.
Menurut Hasan Basry, dalam Kisah Gerilya Kalimantan (1962), pamflet-pamflet itu disebar sekelompok tentara Australia, sehingga seolah-olah tentara Australia secara keseluruhan mendukung kemerdekaan Indonesia. Padahal, pamflet itu dibuat orang Indonesia di Australia. Tentara-tentara Australia, yang berpangkat rendahan, umumnya bersikap baik pada orang-orang Indonesia yang baru saja menderita karena pendudukan Jepang.
John Cohen si Komunis Yahudi itu adalah salah satunya. Bersama kawan-kawan Tentara Australia-nya, Cohen menjalin kontak dengan pemuda pro Republik Indonesia. Ia juga mengusahakan senjata untuk mereka.
Cohen yang aktif itu lalu dimutasi ke Makassar sebelum 13 November 1945. Dia tidak menghadiri peristiwa di Karang Anyar, Balikpapan pada 13 November 1945. Di sana, orang-orang Balikpapan mendeklarasikan diri sebagai bagian dari Indonesia. Belasan tentara Australia jadi saksi, sekaligus kawan pelindung jika NICA Belanda membuat masalah.
Cohen sendiri tak menghilangkan kebiasaan dan kedekatannya dengan Indonesia. Cohen bertemu dengan Dr Ratulangi yang tidak diragukan sikap nasionalismenya pada kemerdekaan Indonesia. Ratulangie yang sudah puluhan tahun melawan pemerintah kolonial dengan jalur cerdasnya di Volksraad, oleh Soekarno diangkat sebagai Gubernur Republik di Sulawsi.
“Seorang prajurit Australia yang masih muda, John Cohen, mengikuti Dr Ratulangie seperti pengikut, dan menghabiskan seluruh waktu luangnya di rumah tangga Ratulangie untuk mempelajari sebanyak mungkin kebudayaan dan politik Indonesia. Cohen merupakan perantara berguna dalam membawakan suara nasionalisme Indonesia ke Australia, biarpun pada waktu itu suara tersebut dibungkam oleh perwira-perwira senior Australia.


4.Herberth Feith.
Adalah salah seorang Indonesianis dan profesor ilmu politik yang paling terkemuka dengan perhatian khusus pada sejarah Indonesia modern.
Herbert Feith bersama orang tuanya warga negara Austria keturunan Yahudi datang ke Australia sebagai pengungsi pada tahun 1939 karena melarikan diri dari penyebaran Nazisme saat itu di Eropa. Setelah pendidikan sekolah dasar dan menengah ia melanjutkan ke Universitas Melbourne di mana ia belajar ilmu politik di bawah seorang Profesor bernama W. MacMahon Ball yang memengaruhinya kepada studi Asia timur dan tenggara. Setelah di wisuda, ia kemudian berkunjung ke Indonesia dan dengan bantuan seorang teman ia berhasil mendapatkan pekerjaan di Departemen Informasi dan selama dua tahun ia bekerja sebagai pegawai negeri sipil di Indonesia dengan berteman banyak orang Indonesia membuatnya menjadi fasih berbahasa Indonesia yang kemudian mendapatkan tawaran beasiswa pasca sarjana di Universitas Cornell dan bertemu dengan George McTurnan Kahin antara 1957 dan 1960, ia mulai menulis apa yang diakui sebagai studi definitif tentang Indonesia modern pada dekade tahun 1950an.


5.Daniel S. Lev.
Adalah salah seorang Indonesianis dan profesor ilmu politik paling terkemuka dengan perhatian khusus pada Indonesia, khususnya pada masa pembentukan Demokrasi Terpimpin di bawah Presiden Sukarno pada 1957-1959. Prof. Lev banyak berjasa mendidik para ahli hukum dan politikIndonesia. Kematian Pak Dan, begitu biasanya ia disapa oleh murid-muridnya, Kritis dan berani, dua sifat itu pula yang terus dipertahankannya sampai “maut” akhirnya memanggil Dan Lev. Adalah kanker paru-paru yang kemudian menjadi penyebab “kepergian” Dan Lev. Dikenal sebagai perokok berat, pencandu kopi, dan peminum scotch wiski yang sering dinikmatinya bersama murid-muridnya, Dan Lev berpulang di Seattle, Washington, pada tanggal 29 Juli 2006. Kemudian dikremasi pada tanggal 31 Juli 2006 di kota yang sama dalam usia 72 tahun.

Tiga tahun setelah kematiannya, para kolega, murid-murid, sahabat-sahabatnya di Indonesia melaksanakan acara mengenang 1.000 hari kepergian Dan Lev pada 25 Juli 2009 di Goethe Haus, Jakarta. Goenawan Muhammad, salah seorang sahabatnya, membacakan sebuah puisi gubahan karya Anna Akhmatova dengan judul “Negeri yang Bukan Negeriku”. Puisi tersebut menurut Arlene Lev, Istri Dan Lev, sangat cocok menggambarkan rasa cinta Dan Lev kepada Indonesia.

Akhirnya yang tertinggal dari Dan Lev adalah pemikiran-pemikirannya yang tercatat dalam buku-buku, karya tulis pendek, rekaman wawancara, diskusi, dan memori terdalam dari para sahabat dan keluarganya. Catatan kecil ini mencoba menyajikan pemikiran Dan Lev dari data-data tertulis dan elektronik yang sekuat mungkin dikumpulkan penulis yang diperuntukan untuk menghargai seorang Indonesianis terkemuka, untuk seorang yang telah memberikan banyak ide tentang sebuah negeri yang bukan negerinya.

Baca juga:

Komentar

loading...
loading...